Jumat, 31 Mei 2013

Alat Musik Gamelan Jawa

GAMELAN
Simponi Musik Jawa Bercita Rasa Keselarasan Hidup 


Untuk menata segala kehidupan menjadi selaras dalam kehidupan duniawi dan rohani/batin adalah pandangan hidup dan kesehari-harian masyarakat jawa pada umumnya, misalnya cara berbusana yang serasi (tidak kontras, tidak seronok, tidak selalu mencari perhatian), keselarasan dalam berbicara meskipun sedang dalam emosi batin yang meledak-ledak tetap berusaha santun dalam mengungkapkan isi hatinya. Ngono ya ngono nanging aja ngono (begitu ya begitu tapi jangan begitu) adalah peribahasa jawa dalam mengungkapkan keselarasan dapat menahan emosi.

Keselarasan berarti dirinya dapat mengatur keseimbangan emosi dan menata perilaku yang laras, harmonis dan tidak menimbulkan kegoncangan. Saling menjaga diri, saling menjaga cipta, rasa, karsa dan perilaku, adalah pandangan hidup dan realitas hidupnya walau terjadi ritme-ritme karena dinamika kehidupan masyarakat. Dari sini maka irama Gendhing/musik dari Gamelan termasuk tembang jawa itu disusun dan dibuat.

Anda bisa memperhatikan urut-urutan dari alat gamelan ketika dibunyikan dalam sebuah irama Gending. Perhatikan saja tarikan dari tali rebab, disusul bunyi suara dari bilah-bilah logam kuningan yang disebut slentem, lalu bunyi saron, kendhang, kenong, gambang, dan lain-lainnya, yang selalu diakhiri suara gong di penghujung bait irama gendhing. Disini, muncul keselarasan jiwa dan rasa. Namun, jika ditanyakan sejak kapan dan siapa yang awalnya membuat, sulit untuk dilacak. Yang jelas sudah sangat tua, dimana Anda dapat melihat pada relief Candi Borobudur (abad VIII).

Boleh jadi perkembangannya dimulai dari kenthongan, tepukan tangan, pukulan ke mulut, gesekan pada tali/bambu tipis, dsbnya. Lalu alat musik jawa itu berkembang dalam bentuk bilahan kayu, bambu atau lempengan besi, lembaran kulit dan bambu yang dilubangi.
Setelah menjadi seperangkat alat musik kemudian dinamai Gamelan, mula-mula untuk mengiringi tarian, dan semakin semarak karena di dukung lagu (tembang) oleh penyanyi (swarawati/wiraswara). Kemudian berfungsi pula untuk menyemarakkan upacara-upacara Namun yang paling intensif ialah untuk mengiringi pagelaran wayang atau tari dan seni panggung (kethoprak atau sendratari).
Gamelan akan bersuara merdu, mantap dan tidak sember/fals, tergantung dari bahannya. Yang paling baik jika dibuat dari bahan perunggu berlapis kuningan, tapi biayanya sangat mahal. Atau bisa juga dari besi kualitas unggul, walau suaranya tentu kurang merdu, kurang mantap dan kemlonthong.

Gamelan/Gongso/"Pradonggo"(Kawi) berasal dari kata: temba ga + raja sa adalah bahan logam yang dicampur menjadi instrumen Gamelan: "gasa" diper luwes menjadi Gongso. Secara keseluruhan instrumental komplit Gamelan selain dari bahan logam, ada yang berbahan kayu, misalnya: gambang, demung, barung, peking, slentem, ditambah alat tiup suling dan alat gebuk kendang dan bedug , alat gesek rebab dan alat petik siter.

Di Solo misalnya, upacara Kirab Gunungan Sekaten pada bulan Maulid untuk menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW, dari Karaton Kasunanan Surakarta ke Mesjid Agung di Alun-alun Utara juga diiringi irama Gendhing Carabalen dari perangkat Gamelan yang terdiri dari saron, centhe, keprak, kenong. Selama sepekan, maka Gamelan yang terdiri dari Kyai Guntursaroi dan Gunturmadu dikumandangkan oleh para niyaga (penabuh/pemusik) Karaton dari Bangsal Pradangga di halaman Masjid Agung.


Di Karaton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunagaran maupun Kasultanan Yogyakarta dan Pakualaman terdapat perangkat Gamelan peninggalan para leluhurnya. Sebagai contoh adalah perangkat Gamelan yang ada di Kasunanan Surakarta yang merupakan warisan pusaka dari masa Kerajaan Majapahit dengan keunggulan kualitas suara yang merdu, mantap dan lembut (perangkat Udan Riris, Kanyut Manis untuk pengiring upacara).

Ketika Sultan Agung Hanyakrakusuma memimpin Mataram juga membuat perangkat Gamelan dan Gendhing-gendhing. Gendhing Ketawang Ageng yang digunakan untuk mengiringiupacara peringatan Jumenengan sang raja trah Mataram merupakan karya besar dari pakar seni karawitan di Karaton yang ilhamnya dari penghayatan terhadap alam lingkungan.

Di Kasultanan Yogyakarta dibuat duplikat perangkat Gamelan Sekaten yang menjadi pelengkap dari sisa Gamelan Sekaten warisan Majapahit, yang kemudian disebut Kyai Nagailaga. Duplikat gamelan Sekaten juga telah dibuat oleh Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta ketika masih bertempat di Sasanamulya, yang pengecoran logam sampai dengan jadinya digarap oleh pengrajin Gamelan di desa Wirun - Bekonang Sukaharjo.

 

Riwayat gamelan Tahun jaywaha, suryasangkala katingal Pangrasaning janma (162) 
Masa palguna, candrasangkala swara karengeng jagad (167), 
Sri paduka maharaja dewabuda membuat gamelan 'lokananta' berwujud wilahan terbuat dari gangsa, yang di masa kini disebut demung Suryasengkala bagahaning swara angrenggani swarga (269), tahun tarha Tandrasengkala swara matenggeng karna (287), masa kartika, 
Hyang endra membuat alat bunyi-bunyian yang dinamai 'surendra' berwujud gending (kini disebut 'rebab'), kala (kendang), sangka (gong), pamatut (kethuk), dan sauran (kenong) 
Suryasengkala karengeng karna tri (326) tahun wakdaniya Sandrasengkala karenggeng gunakaton muluk (336), masa palguna hyang endra mengutus batara citrasena ke negeri purwacarita membawa gamelan 'surendra' untuk diberikan pada maharaja kano bahwa semua bunyi-bunyian tersebut boleh dipakai oleh manusia di dunia.
Sri maharaja kano menambahkan dengan salundi (kempul) dan garantang (gambang)
dan menyebarkannya ke masyarakat untuk ditiru dan dikembangkan dengan berjalannya waktu, surendra menjadi lebih dikenal sebagai surendro atau salendro tahun pramadi, suryasangkala kaswareng karnaguna maletik (327) Masa wisaka, candrasengkala gora tri katon tawang (337) Srimaharaja kano menciptakan dan menyebarluaskan lagu-lagu dari tembang ageng inilah asal muasal gending. 

Tahun wikrama, suryasengkala naga kacaksuh ing rana (328) masa manggakala, candrasengkala madyaning rana tri (338) berdasarkan alat bunyi-bunyian dari negeri ajam, yahudi, dan hindu srimaharaja kano menciptakan bunyi-bunyian tanda perang: mardangga, yang terdiri dari : 
Kalakendang, sangka gong, egong, gubar (bende yang tidak ber-pencu),
bahiri (beri yang memakai sanding keliling), puksur (rebana yang dipukul dengan kayu),
gurnang (kenong digantung), tong-tong (kendang dari gangsa, alat pemukul dari kayu),
grit (rebana yang dipukul dengan kayu), tetek, bedug,
maguru gangsa (kemodong yang digantung)
lama kelamaan nama 'mardangga' berubah menjadi 'pradangga'
tahun pilapawa, suryasangkala trusta bojaning marga (529)
masa wisaka, candrasengkala tataning pakarti wisaya sirna (545)
dewi sugandi, putri prabu basukesti raja negeri wirata, melahirkan dewi basuwati
raja mengundang para brahmana, tapa, resi, dan sewasogata
untuk memuji syukur agar sang bayi senantiasa sehat tak kurang suatu apa
para rohaniwan ada yang membawa bunyi-bunyian rebana atau terbang angklung,
genta, kekeleng, bende, dan kentongan
bunyi-bunyian tersebut mengiringi nyanyian permohonan pada dewata
sepulang para rohaniwan raja memerintahkan membuat tiruan alat-alat tersebut
yang berbentuk rebana dan berbagai angklung
ditujukan agar bisa dimainkan seperti surendra
tahun kalayuda, suryasangkala guna makarti tata (543)
masa srawana, candrasengkala trusta marganing gati ((559)
prabu basukesti raja negeri wirata membuat tiruan dari gangsa lokananta
berwujud demung dan gender
yang kemudian juga disebarkan ke masyarakat luas
dan dikenal sebagai gangsa surendra
tahun sadaruna, suryasangkala anrus lenging naga (899)
masa . . . . , candrasangkala karenga ing karna nrus wiyat (926)
resi kano dari negeri ngadirejo, cilacap, berniat melawan prabu ajipamasa di kediri
prabu narada, raja ngadirejo segera mengutus waktra dan barlu mengawasi resi kano
waktra dan baru menyamar sebagai pemain jantur
membawa seruling buatan sendiri dari bambu wratsari dan empat ekor burung merak
bunyi seruling dibuat bernada-dasar menirukan suara-suara burung merak
sepulang ke ngadirejo seruling menjadi kelengkapan gangsa surendra
ditambah dengan bunyi dasar yang cocok dengan suara dasar gangsa salendro
timbullah laras 'manyura' untuk pengingat suara burung merak : 'nya-ngung-ngong'
tahun tadu, suryasangkala (1107) karengeng maletik atmajaji
candrasengkala karsa tri nunggal janma, 1136
prabu lembu amiluhur berputra raden panji ino kartapati
yang juga dikenal sebagai raden panji kasatrian, ahli segala ilmu pengetahuan
yang menambahkan alat berwujud bonang dan saron
serta menambah dasar-dasar nada atau laras
saudara-saudara beliau ikut membantu dalam mencipta alat
raden kartala mengayunkan palu besar raden andaga palu sedang
penyelesaiannya pun dikerjakan se-kadang sendiri
selesai gamelan tersebut, diciptakan seperangkat 'laras miring' atau disebut 'pelog'
jumlah dan jenis alat bunyian sama dengan gamelan surendro
akhirnya gamelan surendro disebut salendro dan pelog
pada masa pemerintahan prabu mundingsari dari kerajaan pajajaran
dibuat dua macam gamelan lagi seperti ayahnya dari jenggala
'sorogan untuk laras pelog' untuk mardangga yang disebut 'laras barang'
meniru laras bunyi-bunyian cina atau siyam
kini ada bermacam-macam kenong dan wilahan
dari demung lokananta yang konon hanya berjumlah delapan gender duabelas dan gambang juga duabelas. 

sumber : media seni budaya Indonesia
Melestarikan budaya nasional warisan leluhur sebagai wujud jati diri dan watak pribadi bangsa Indonesia.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar